Stop kebiasaan minta – minta

Mental Peminta minta

Bergelut di dunia korporasi untuk bertahun tahun banyak memberi saya pelajaran berharga tentang ragam karakter orang yang menjadi relasi/kolega atau klien perusahaan tempat bekerja. Ragam mental pun saya  temukan pada proses itu.

Dalam agama yang saya anut saya di ajarkan untuk selalu punya harga diri ( izzah ) dalam setiap tindakan, meminimalisir permintaan bahkan memaksimalkan tindakan memberi. Untuk beberapa karakter yang saya temui.

Dari karakter yang berhati emas sampai mental yang suka meminta minta dan tak tahu malu juga ada, padahal kalau dipikir mereka kerja di perusahaan BUMN.

Tak jarang juga ada yang berhati emas, berkarakter baik, pokoknya beragam, Tuhan maha adil memang, contoh kecil pada saat momentum lebaran seperti ini, di saat saya posting ucapan menggunakan sosmed / instant chat terciptalah percakapan yang kurang  hangat dengan salah satu pejabat yang kebetulan kami ada kerjasama.

Pertanyaan basa basi berujung pada posisi saya dimana? Akhirnya saya bilang masih di Makassar, ternyata ujung ujungnya ada udang dibalik bantu, malah nitip oleh oleh makanan khas, dan itu percakapanya to the point. Langsung …………..memalukan instansi nya.

Mewakili corporate instansi saya  bekerja tentunya saya tak mau kasar, dengan sabar dan perbanyak istigfar saya hanya beri jempol, tentunya ada beban tercipta menelorkan benih ketidak iklasan. Terpaksa pun saya di sela sela kesibukan mau balik ke lokasi kerja akhirnya dengan bantuan taksi online saya orderkan permintaan dengan jumlah yang wajar tentunya dengan kocek sendiri, sesampainya di kota ini. Saya antar pakai kurir, setelah saya infokan  oleh olehnya sampai sore pun tak ada konfirmasi. Sungguh tak tahu etika.Sungguh terlalu tak ada konfirmasi.

Doaku selalu menyertainya , semoga segera pensiun atau  dimutasikan segera ke kampung halaman  dan mendapatkan pengganti yang mentalnya lebih baik. Cukup sudah setahun penuh ujian kesabaran dengan karakter karakter seperti ini, karena ini momentum lebaran dan memang momentum mudik jadi titipan minta oleh oleh jadi saya tolerir tapi ada kalanya kadang menyindir minta gadget. Terbayangkan bagaimana jika mereka berhadapan dengan perusahaan perusahaan mitra mereka bisa lebih parah lagi.

Mental mental meminta,  mental selalu mau diberi, semoga saya terhindar dari sikap sikap itu, dari kecil saya di ajarkan pantang minta minta kecuali sudah tak ada jalan lain. Dengan suami pun begitu, saya sangat pantang minta minta, kalau mau hadiah ketika saya masih sanggup beli ya saya beli sendiri. Lebih damai, tak ada nasehat setelah pemberian dilakukan, dan tak comelan jika terjadi sesuatu.

Rada kesal juga kupikir sudah lebaran banyak yang insaf ternyata mental nya tetap sama, seperti itulah lika liku dunia. Jadi dari pada kesal mengingat mental seperti ini lebih baik mengingat banyak juga kok mental yang baik. Di instansi yang sama pula ada bos yang super baik, ibarat ada satu malaikat dan satu kebalikannya.  Yang terucap hanya kata yang baik, hormat dan tak pernah ada kata untuk meminta dll. Semaksimal mungkin dari pihak kami memberi service terbaik kalau mereka bantu satu, kami maksimalkan membalas kebaikan menjadi  dua.Usahakan lebihkan biar izzah ( harga diri ) tetap terjaga.

Semoga kita semua bisa bercermin dan review apakah selama ini kita termasuk yang suka minta minta, atau suka complain berlebihan atau mencela berlebihan. Dan terhindar dari mental mental menyebalkan seperti diatas.

Kalau minta di mutasikan pulang ke kampung halaman bagaiamana? Yaaa itu bisalah kan hak karyawan hahhahah….kalau itu wajib sering minta biar bos selalu ingat dan bisa membantu kalian 🙂

Selamat beraktifitas kembali bagi yang baru selesai mudik dan selamat berjuang J

 

 

 

 

2 thoughts on “Stop kebiasaan minta – minta

  • June 26, 2018 at 4:48 pm
    Permalink

    Masa pejabat mental peminta-minta yaa, apakah minta oleh-oleh mungkin sekedar basa-basi aja kali mba Siti? yang kalau ga dipenuhi, masa bodoh aja, masah ditanyain melulu sih?. Btw Selamat Lebaran yaa, maaf telat ngucapinnya 😉 .

    Reply
    • June 30, 2018 at 12:24 pm
      Permalink

      iya mbak, ada itu sy client BUMN suka begitu.. miris … makasih ucapannya…

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *