Cerita Perjalanan dengan kapal NGGAPULU ke BANDA NAIRA

Seharusnya kamar saya di deck dan kabin tertera tapi dipindah lagi 6009

Diary perjalanan dengan  KM Ngapulu

Untuk ke Banda Naira seperti yang pernah saya informasikan sebelumnya bisa melalui tiga cara, naik kapal pesawat kecil berpenumpang 12 orang dan jadwalnya hari senin dan jumat tapi kalau cuaca buruk pesawat tidak beroperasi. Cara kedua adalah naik kapal cepat dari pelabuhan Tulehu dengan durasi 4-6 jam, jadwalnya setiap hari selasa dan hari sabtu. Jadi semuanya punya frekwensi dua kali seminggu. Dan alternatif terakhir adalah menggunakan KAPAL PELNI yang berlayar ke BANDA NAIRA sesuai jadwal tiap tahunnya, dan yang rutin masuk ke BANDA adalah KM NGAPULU. Jadwal saat saya disana adalah KM Ngapulu ada dua kali masuk saat saya datang dan saat saya kembali. Berangkat tanggal 9 Juli dan balik tanggal 13 Juli 2018.

Perjalanan dimulai dari saya sudah bangun dari subuh hari beli bekal buat makan siang dengan melihat jam keberangkatan pada tiket kapal Pelni KM NGAPULU tanggal 9 Juli 2018 di pukul 11 pagi jadi kami sudah merencanakan jam 7.45 berangkat dari rumah tapi sebelum itu jam 6.30 saat masih gelap saya sudah tancap gas ke salah satu resto siap saji ternama di Indonesia apalagi kalau bukan KFC buat beli take away rencana nya buat makan siang, dengan perkiraan kami akan sampai di jam 7 malam. Selanjutnya saya balik rumah menjemput Mr Big dengan 2 travel bag dan 1 tas nya ( bekal kami 3 koli ) diluar ransel masing masing. Kami meluncur ke hotel buat jemput teman yang suaminya dari India yang pernah berlibur bersama kami juga di Malino bisa dibaca disini.

Setelah  itu kami berempat  yang rencananya berlibur ini langsung ke pelabuhan AMBON dengan taksi online, dan sampai di Pelabuhan “ada bule yang pertama kali naik kapal pelni” super kaget dengan banyak nya orang dan banyak porter yang langsung menarik narik tas dan bagasi kami setelah keluar dari taksi online ( di Ambon sudah ada GRAB loh bahagianya diriku )  Jadi itu sudah jadi drama pertama sempat mr big berceloteh dan ngambek dilanda  stress melihat kenyataan banyak nya orang berjubel dipintu masuk antrian ruang tunggu, seperti biasa adegan ini akan berlalu setelah srikandi turun tangan,  setelah menenangkan nya dengan memilih 1 buruh yang akan bantu kami ke atas kapal, dimana kapal yang dimaksud ternyata menurut penumpang lain akan masuk dijadwalkan terlambat dari waktu di tentukan di tiket.Rumornya molor masuk tiga jam, dan molor pastinya berangkat. Shock terapy pertama, tak ada pengumuman, tak ada informasi dan tak ada permintaan maaf karena ini bukan bandara ya, setelah itu kami berbaur dengan ratusan penumpang lainnya mungkin sekitar 20 menit bergerombol  dan mengobrol dan akhirnya pintu masuk ruang tunggu di buka,  saya langsung masuk duluan bersama sang porter yang sudah kami sewa untuk bisa dapat jatah kursi di ruang tunggu karena ruangan tunggu terbatas sedang manusia yang mau naik kapal ini ada ribuan, saya saya antri dengan ratusan orang menunjukkan tiket di potong baru tangan di cap sama si bapak petugas dan saya masuk ke tempat duduk yang sudah di sediakan oleh bapak porter buat kami, selanjutnya si porter nya balik lagi jemput sisa rombongan untuk masuk kembali. Oh ya kami bayar porter Rp 100k untuk urus kami naik ke kapal dimana ada 3 travel bag kabin dan 1 tas serta 2 dos kecil. Sebenarnya 1 tas itu nilainya 20k lah ya, jadi kalau kalian ada masa berurusan dengan kapal pelni dan butuh tenaga porter pelabuhan bisa paham tariffnya, kalau koli nya besar tentunya portir akan melakukan negosiasi ulang toh tas kami cuma tas sedang dan kotak dos juga kecil bukan barang berat pula.Karena sebelumnya saya tak berpengalaman dengan portir kirain cuma Rp 50k ternyata minimal Rp 100k. Maklum ini kali ke berapa saya naik kapal pelni, pernah tahun lalu saya ikutan rombongan kantor jadi ada yang uruskan barang barang kami ikut-ikutan seru seruan saja sedangkan kali ini kami ber 4 saja, harus urus diri sendiri.

Untuk harga Tiket kapal PELNI ekonomi, karena semua saat ini sama tiket kelas ekonomi harganya untuk dari Ambon ke Banda Naira adalah Rp 105,000. saat balik kok harganya murah Rp 95000/ orang. Namun Karena kami titip sama orang ( oknum ) harga naik jadi Rp 125 ribu x 2 ( PP ) = 250K  kalau mau pakai kamar mandi alias mau minta kunci kamar mandi karena kami beli dari 19 juni lalu jadi kami mendapatkan kelas ( kamar ) yang pada akhirnya penuh drama. Jadi setelah saya amati dunia tranportasi laut ini penuh dengan banyak per caloan, pengalaman berurusan dengan kapal cepat, penitipan barang, jadwal tiket tidak jelas, dll. Saya sebagai warga negara berasa kok dunia transportasi laut Indonesia khususnya Indonesia timur perlu dibenahi dengan baik oleh pemerintah atau pihak berwenang yang terkait. Misalnya ya,  kapal penumpang sekarang sudah tak ada mengenal kelas jadi semua rata, jadi siapa beli tiket duluan sudah dapat kamar langsung tertulis di tiket deck dan nomor kamarnya kalau kalian beli belakangan ya tidak dapat tempat dikamar tapi diluar. Yang aneh di setiap kamar kan harusnya sudah di diberi kunci kamar mandi, dan kenapa semua kamar pintunya lepas?  apakah karena rusak ? atau ? kenapa dibiarkan kamar tersebut pintunya terlepas? Kok tidak di perbaiki.Kami seharusnya dapat kamar sesuai tiket tertulis Deck 6/6022A dan 6/6022B. itu dikamar yang sama tapi saat saya antri ke atas sama porter saya harus melapor lagi sama petugas informasi deck 6 dan petugasnya mengecek dan mencoret nomor kamar kami dan beri kamar baru.  di 6/6025  di kamar saya seharusnya ada pintunya tapi kok dipindah ke  6025. Teman saya dan suaminya seharusnya dapat kamar di sebelah saya 6/6021A & B tapi mereka setelah hampir berkelahi ( berdebat lebih tepatnya )  akhirnya dikasih  di deck 6/6016 beda lorong dengan kami.

Sungguh sebuah drama yang menghabiskan energi naik kapal PELNI . Sudah lama menanti ternyata kamar juga berganti, mau protes juga sama saja, yang paling memprihatikan adalah di lorong jalan masuk ke kamar kamar itu dipenuhi barang dan manusia dimana mereka juga membeli tiket dari calo dan diberi kamar kelas tapi di lorong yang seharusnya itu hanya jalan muat satu orang.Ini dikamar kelas yang lumayan ada aroma AC walau ACnya tak cukup sejuk ketika keluar ke deck luar penuh dengan manusia.

Mr Big pertama kali saya ajak berlibur naik kapal Pelni harapannya dia pikir kami dapat kamar ber AC sejuk dengan lengkap dengan pintu dan ketika masuk kamar, dia shock untuk yang kesekian kalinya,  terpaksa pintu lemari dikamar kami buka buat nutupin sebagian pintu dan saya gantung jaket buat nutupin sebagian atas karena sepanjang perjalanan dari saya naik dan masuk ke dalam kapal, ada puluhan  manusia lalu lalang dari penjual nasi, penjual minuman dan orang orang yang duduk di lorong juga memenuhi lorong yang terus terang jadi sangat tidak nyaman. Dimana bukan cuma orang yang duduk dan tiduran tapi tumpukan barang penuh dos mereka simpan. Ada satu ibu tadi mengamuk saya dengar dia teriak teriak sudah bayar mahal buat tiketnya kok ditaro di lorong.  Apa daya teriak teriak juga tak buat ibu tadi  masuk ke kamar kelas yang berpintu.

cara mensiasati kamar tanpa pintu, gantung sarung
cara mensiasati kamar tanpa pintu, gantung sarung

Saya sempat menelpon sahabat saya yang asli anak papua  dan dari kecil sudah wara wiri naik PELNI ke mana mana, dia hanya bilang mereka sudah merasakan derita itu sejak kecil karena kemana mana di  Papua dulu ya hanya naik kapal penumpang jadi semua derita yang saya kisahkan mereka sudah alami bertahun tahun.Saya jadi sedih ini sudah tahun 2018 masih begini, atau entah kalau dulu dulu apa lebih parah ya. Kalau dulu masih menggunaan kelas penumpang kelas masih mendapatkan service lebih baik sekarang karena semua penumpang sama jadi pelayanan pun sama.

Pak Haji Big lelah, bed nya tak cukup empuk jadi sudah selonjoran tak jelas dengan laptopnya

Sedikit mengenang sejarah naik per kapal pelni-an ku :

Kalau saya record naik kapal Pelni saya hitung mungkin 3x jaman kuliah pernah naik kapal Ke Yogyakarta tahun 2001, sama kemana lagi ya, ke Surabaya hahhaha penuh cerita seru, dan saat sudah kerja ya baru tahun 2016 kembali perdana  naik kapal PELNI karena kami ada acara kantor ke BANDA NAIRA dan hanya ada pilihan PELNI waktu itu. Dan kali ini berlibur bersama bersama Mr Singh dan Ibu Nila sahabat kami dari KPCSS ( Komunitas pernikahan Campura Sulawesi Selatan ) yang memang ada darah keturunan di Tanah Maluku khususnya Banda Naira. Jadi bisa dibilang ini kali ke empat saya naik kapal PELNI.

Kalau dikamar saya masih beruntung lebih baik, kasurnya masih ada,kasur tanpa sprei ya, ada bantal tanpa sampul,  kamar mandi terbuka dan laci laci masih bersih. Kalau dikamar bu Nila itu laci penuh puntung rokok dan  gelap lampunya mati. Kamar mandi tertutup harus bayar Rp 50,000 buat dibukakan pintu kamar mandi dalam kamar tersebut. Ini aturan dari mana ya harus bayar Rp 50,000 dan itu pun pungutan tak resmi coba ada kwitansi nya akan kami simpan sebagai kwitansi pembayaran kamar mandi termahal di INDONESIA.

Bersyukur air mengalir lancar, tepat menjelang maghrib akhirnya setelah mr big juga sudah nonton film dari laptopnya dan sempat tidur siang sebentar walau kamar lumayan panas kapal akhirnya mulai berjalan, sayup sayup suara ABK muka belakang  terdengar dan  kapalpun mulai bergerak pelan dan tak beberapa lama azan berkumandang dari papan pengumuman di kamar.

Bekal kami sudah kami habiskan di siang hari tadi berarti sebentar malam harus makan malam  dan rencananya kapal ini akan tiba keesokan pagi dikisaran pukul 7 Pagi. Yang mengerikan adalah kamar kami tak berpintu jadi salah satu harus selalu stand by menjaga kamar, kami tak bisa bebas kemana mana, sedangkan perjalanan perkiraan 10 jam lagi. Harus ada yang ronda menjaga barang barang .

Perjalanan penuh perjuangan, teringat perjalanan pertama saya ke Banda Naira di tahun 2017 lalu, kami juga naik kapal Penumpang namun nasib kami lebih parah saat itu karena kami banyak dan rombongan kami tak bisa dapat kamar, sehingga kami terdampar di dek pintu masuk duduk rebahan tanpa arah termasuk para bos kami. Saya sempat tertidur di deck tempat ngopi paling atas dimana para bapak bapak ngopi dan berkaraoke dan saat itu  musim hujan deras. Itu adalah termasuk perjalanan paling nelangsa di lingkup kerjaan kami. Paling parahnya waktu itu kapalnya tak langsung ke Banda Naira tapi singgah dulu di Amahai, Maluku Tengah jadi kami hampir 14 jam di atas kapal yang sepanjang perjalanan juga merasakan derasnya hujan.

Perjalanan Pulangnya dengan kapal yang sama, dan tariff tiket yang lebih murah 6 ribu perak, entah kenapa harga tiket itu berubah rubah. Kali ini tetap saya dapat deck 6 dan mendapat kan kamar kelas.Setelah belajar dari pengalaman perjalanan berangkatnya kami sudah sangat paham, karena kami ber 4 dan bawaan kami yang kami butuh kuli untuk angkat ada 5 koli maka kami sewa 1 buruh untuk angkat tapi tidak sekali angkat biar tas kami tak rusak karena diangkat paksa, maka sang portir angkat naik ke kapal dulu dari proses antri masuk ruang tunggu saja sudah penuh penderitaan baru masuk dari ruang tunggu ke atas kapal lagi penuh derita dan penuh pencopet. Gelombang pertama saya sama mr big naik dulu sama sebagian tas dengan portir langsung ke deck 6 bagian informasi menyerahkan tiket untuk di cek ketersediaan kamar karena mereka pasti mencoret kamar dan memberi kamar kamar nomor baru. Misal saat kepulangan saya dapat kamar 6013 tapi di coret lagi di kamar 6009, awalnya karena saya serahkan 4 tiket langsung di coret diberi 1 kamar untuk ber –empat dan kami protes kami mau kamar berdua karena bukan rombongan, benar benar penuh perjuangan kalau naik kapal PELNI.Setelah mendapat 2 kamar untuk 4 orang yang berseblahan, baru sang portir turun kembali menjemput teman kami dan sisa barang. Kalau di keberangkatan kemarin kami belum paham sistemnya, jadi kamar saya berada di deck yang berbeda dari teman saya padahal tiket kami  tertulis berdampingan, karena kami telat melapor dan kamar sudah penuh. Satu hal yang harus kalian lakukan kalau perjalanan naik kapal PELNI, upayakan bawa tas ransel karena kalau bawa koper si portir akan menggunakan tali kokoh untuk di kaitkan ke pegangan koper dan menaikkan di punggung sekalian 3-4 koper bersamaan ketika proses ini berjalan dari atas ke bawah kapal maka dijamin koper mahal kalian bisa rusak bagian holdernya, dan biasanya juga kejedut sana sini sang portir tak terlalu peduli. Mr Big punya tas holder nya pecah karena kasus seperti ini padahal masih bagus.

Kondisi kamar kapal PELNI yang saya amati   ( KM NGAPULU )

  1. Banyak kecoa ( kecoa kecil kecil )
  2. Sampah masih berceceran ( remah remah makanan penumpang sebelumnya )
  3. Bed nya tidak pas dengan tempat tidur jadi bed ala kadarnya
  4. Mereka kunci kamar mandi, baru di buka kalau bayar Rp 50 rIbu ke petugas
  5. Pintu kamar lepas di taro di bawah tempat tidur jadi masing masing penumpang menggantung sarung atau buka pintu lemari buat menutupi kamar dari lalu lalang pedagang dan orang yang keluar masuk.
  6. Karpet dasar kotor dan bau.
  7. Pintu lemari rusak

Sepanjang di kapal saya tak pernah dengar pengumuman untuk penumpang mengambil makanan, entah saya yang kurang dengar atau memang PELNI tak menyediakan makanan lagi seperti jaman dulu.

Pada saat berangkat dari Ambon ke Banda kapal penuh sesak penumpang di setiap lorong deck penuh manusia, kami keluar kamar saja susah melangkah. Saat dari BANDA ke Ambon kapal tidak terlalu penuh, lorong antar kamar tak ada orang, hanya barang saja. Perjalanan ke Ambon juga lancar berangkat jam 2 subuh dari pelabuhan Banda dan tiba di Ambon jam 10-an dan sampai rumah jam 12 siang.

Saat perjalanan dari kapal turun Mr Big dan Mr Singh sempat percobaan copet di celana jeansnya namun mereka sudah sigap dengan mematahkan jari jari pencopet diantara kerubutan orang yang baku himpit, karena memang ladang pencopetan paling afdol itu saat penumpang berdesak desakan turun dari kapal. Ransel saya saja terbuka sebagian tapi tidak berhasil mengambil apapun karena mungkin ribet.

Pengalaman luar biasa buat Mr Big,maunya sih naik kapal pesiar apa daya yang menuju banda naira hanya kapal penumpang PELNI.

Yang kasihan sebenarnya para penumpang antar pulau yang tergantung sama kapal PELNI, ada ibu kawan saya harus naik kapal PELNI tiap tiga bulan sudah khatam bagaimana kerasnya kehidupan di kapal. Karena tak ada pilihan lain,  Entah kapan perbaikan layanan di kapal PELNI ini bisa lebih baik dan lebih manusiawi. Semoga suatu hari nanti ya.

Penumpang juga sebenarnya andil dalam ke kisruhan kusutnya tampilan layanan kapal Pelni, saya lihat kamar sebelah yang muatnya cuma 2 orang dipenuhi banyak orang dan mereka makan seenaknya di tempat tidur remah remah makanan berceceran dimana mana, tidak terkontrol. Bagaimana kecoa tidak berkembang biak dengan suburnya di kapal ini. Ngeri ingatnya saat tidur kadang kecoa kecil lewat lewat di samping, untungnya saya pakai hijab jadi nutup telinga sambil tiduran. Pengalaman tak akan terlupakan.

Budget transportasi ke BANDA NAIRA dengan kapal PELNI untuk 1 orang .

  1. tiket PP (Rp 105,000 + Rp 96,000 = Rp 201,000)
  2. Buka kamar mandi Rp 50,000
  3. Portir PP kalau kalian  sendiri sih tak perlu kalau rombongan pasti perlu, perkiraan Rp50,000
  4. Bekal makanan/ jajan PP Rp 100,000.

Total sekitaran Rp 400,000 ribu, durasi perjalanan 8 jam dan siap berdesak desakan dengan ribuan penumpang lain nya 🙂 .

Kalau mau naik pesawat budgetnya 2x lipat tapi derita masalah portir, masalah desak desakan di eliminasi dan durasi waktu cukup 1 jam lebih sudah smpai di BANDA NAIRA. Kalau mau naik kapal cepat tariff sama dengan pesawat tapi durasi 4-6 jam dan masalah desak desakan sama penumpang masih manusiawi karena kapal cepat terbatas dan semua penumpang dapat jatah seat apalagi tariffnya juga lumayan mahal Rp 400,000/orang.

jadi silahkan pilih yang kalian suka kalau saya bisa memilih saya mau naik pesawat saja dengan catatan cuaca memungkinkan. 🙂

Semoga pengalaman berikutnya sudah naik kelas ya, naik kapal pesiar, itu mimpi kami di petualangan berikutnya, semoga sharing diatas bermanfaat buat kalian semua…….Happy traveling 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 thoughts on “Cerita Perjalanan dengan kapal NGGAPULU ke BANDA NAIRA

  • July 19, 2018 at 3:16 pm
    Permalink

    Nih Pelni dari jamanku kecil sudah rame percaloan deh mba, sdh 25-30 thn lalu saat aku dan keluarga ke Medan ke tempat kakek nenekku, dukanya sdh pernah kualami. Tidur di emperan kapal haha itupun bayar lebih mahal krn pakai calo. Tp kala itu kamar mandi sih bebas, skrg OMG mahal amat yak 50rb 🙁 .

    Reply
    • August 1, 2018 at 2:27 pm
      Permalink

      yaa begitulah drama naik kapal pelni mbak…seru juga

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *