Explore Maluku 39# Berpetualang ke Pulau Banda Naira

Petualangan ke  Banda Naira

Akhirnya mimpi itu terwujud lebih cepat dari yang saya rencanakan, yakinlah akan semua mimpi dan tuliskan, akhirnya hari yang ditiba malah terjadi lebih cepat. Ya Mengunjungi Pulau wisata sejarah yang dulu hanya sering saya baca dari buku sejarah sejak kecil telah ku datangi ( aseek) alkisah rencana ke Banda sebenarnya kami mau double date holiday dengan Pasangan Nila & Mr Singh, mengulang kembali perjalanan kami di postingan ini,  Untuk menyusuri sejarah asal usul moyangnya yang  orang Banda Naira. Sedangkan saya yang sudah bertugas disini sudah punya mimpi untuk mengunjungi semua kabupaten di Provinsi Maluku. Dan beberapa sudut maluku pun sudah saya datangi dari Pulau Seram Timur, Tengah, Pulau Buru dan  Kepualan Kei  ( Kota Tual – Langgur ) pun telah ku jelajahi . Kisah perjalanan saya di Kepulauan Maluku bisa di baca disini

Ternyata di Bulan Mei yang penuh dengan tanggal merah beberapa waktu lalu  pun jadi berkah, di kantor sudah lama bos mau berpetualangan ke kota Banda, kami memang rencana workshop di sana dari tahun lalu. Akhirnya tertunda dan baru terwujud di pertengahan bulan Mei lalu. Yang mana saya sendiri tak  menyangka jadwal nya bisa pas dengan jadwal saya  yang lagi lowong.

Rezeki tak kemana, trip rombongan pun di mulai, ternyata tak mudah juga, secara perjalanan ke Pulau Banda Naira itu bisa di tempuh dengan kapal cepat ( 4 jam ) dan kapal PELNI. Namun jadwalnya  harus di cek dan disesuaikan dengan  cuaca angina  dan laut. Kadang sudah ada jadwal ternyata jadwalnya di undur karena cuaca, pokoknya tak seindah teori yang di rencanakan, belum mencocokkan jadwal kedatangan dan kepulangan.

Kami akhirnya berangkat dengan KAPAL LEUSER dengan tiket ekonomi harga Rp 105,000.  Kapal Leuser sendiri kapal penumpang lumayan kecil yang sudah  ada jadwal keBanda Naira. Namun jalurnya harus singgah dulu di Amahai ( Pelabuhan laut kota Masohi, Maluku Tengah ) .Terakhir saya ingat naik kapal di tahun 2001 menuju ke Yogyakarta karena ada acara kampus di saat masih kuliah dulu ( berasa tua ya ) dan baru kembali  berkutat dengan dunia transportasi kapal di tahun 2016 saat saya mendapat dinas di Ambon. Ketika menyebut Ambon maka dijamin anda akan berurusan dengan kapal ferry dan kapal.

Namun karena kami berangkatnya  rombongan jadi penderitaan itu tak terasa, berangkat ke pelabuhan Yos Sudarso Ambon, disana kami antri masuk dengan tiket ditangan belum lagi cuaca  yang hujan seharian di kota  Ambon ( sampai hari ini bulan Agustus di kota Ambon Masih musim hujan, antrian naik ke kapal dengan membawa tas tenteng ya, saya sudah tahu kalau  naik kapal PELNI bakalan penuh derita jadi terharu dan  siap siap bawa barang seadanya ( untung MR BIG tak ikut, entah apa yang terjadi kalau dia ikut dalam petualangan yang penuh cobaan ini ).  Entah kenapa kami kehabisan tiket VIP menunggu penumpang kosong dulu tapi tak nemu jadilah kami terlunta lunta tanpa kamar bersama ratusanpenumpang lainnya.  Menyewa kamar ABK pun gagal karena  strategi di awal gagal, petugas nya sudah tahu kami rombongan dari instansi, so al hasil kami duduk berjamaah di dekat jalan masuk, stok barang kami pun bertebaran dimana mana, saya naik diatas café taria di dek paling atas dan paling belakang kapal, sembari duduk dan makan, sembari main laptop, dan saya bisa merasakan goyangan ombak kapal yang oleng ke kiri dan ke kanan karena secara Kapal Leuser ini adalah kapal penumpang yang ukuranya tak terlalu besar, untunglah saya tak mabuk laut dari dulu jadi mau oleng berat pun saya masih aman saja. Ada 10 meja, dan anda bisa pesan the,  kopi dan music pojok speaker pengelola café  yang memekakan telinga dengan mengalun merdu lagu lagu Ambon yang non stop, sampai saya mulai hafal lirik lagu lagu asli Ambon Manise yang mendayu dayu, penuh ke baperan dan penuh cinta.  Perkiraan ke Pulau Banda naira itu 10 jam. Tapi mesti singgah dulu di Pulau Seram ( Amahai ) Jadi siap siap molor jadinya.

Diatas kapal yang becek karena habis hujan, ada musholla, ada semacam toko kelontong di beberapa lantai,  dan tentunya selalu ada cafeteria di deck paling atas.  Menyusuri  teluk Ambon, di pukul 7 sesaat setelah azan maghrib, pemandangan jembatan kembar ( Jembatan Merah Putih ) yang gemerlap warna warni, saat melewati dua jazirah Ambon kiri kanan penuh lampu di iringi lagu khas Ambon  sungguh suatu moment tak terlupakan, saya selalu mengagumi suara suara orang Ambon yang super keren.Kalau secara fisik mereka tampan sangar namun hatinya selembut salju sesuai dengan lirik lirik lagunya yang penuh syahdu.  Melihat lautan terbelah oleh ombak dan berdiri dianjungan kapal dengan angin sepoi  sungguh pemandangan  yang  tak akan terlupakan. Lelah menentang tas, panas nya cuaca dalam deck, dan hiruk pikuknya orang dalam kapal  itu sudah terlupakan sesaat jika berdiri memandang laut sembari melihat birunya lautan. Apalagi saat subuh menjelang pemandangan sungguh indah cakrawala saat matahari terbit dari kaki langit yang saya sudah tak tahu mana  barat dan timur.

Pengen sekali sebenarnya  merasakan bagaimana rasanya mengambil kamar VIP di kapal Pelni, cuma belum beruntung saat keberangkatan kami, pernah punya mimpi kalau bebas waktu mau berpetualang satu ke tempat lain dengan kapal tapi yang bagus servicenya atau naik kapal pesiar suatu saat nanti,  Kapan kapanlah kalau sudah pensiun dini  semoga diberi kesempatan dan bisa berpetualang.

Saya selalu merasa bahwa  bahwa penduduk yang hidup di daerah kepulauan lebih tangguh dalam bepergian. Mereka bisa survive dengan hiruk pikuk kehidupan kapal dan buruh buruh. Saya saja mulai merasa mual dengan ombak saat pukul 10 menjelang malam sedang pelabuhan Amahai nanti jam 3 subuh baru tiba. Beberapa teman sudah mulai muntah di jam 10 malam karena hujan semakin deras dan kami pun terpaksa tidur di mana saja,  ada yang sudah terkapar dan mencari bangku untuk tidur. Termasuk saya tetap di bangku paling belakang di dek atas cafeteria, saya rebahan hanya 2 jam di subuh hari karena saya harus jaga juga tas ransel berisi laptop dan beberapa teman yang tiduran di bangku dekat dekat saya juga ada yang tertidur sehingga harus ada yang tetap terbangun. Takut ada yang kehilangan barang. Salah satu teman sempat menyanyikan lagu ini saat mentertawai diri kami sendiri betapa beratnya perjuangan ke Banda Naira kali ini, lagunya adalah “aku merasa orang termiskin di dunia…yang penuh derita dan bermandikan air mata “hahaaahahha  pokoknya seru deh tak akan terlupakan.

Beberapa tips untuk perjalanan ke pulau Banda sebagai berikut ;

  • Cari saat bukan musim badai, mending diakhir tahun saat jarang hujan badai
  • Lebih baik naik kapal cepat hanya 4 jam Cuma kendalanya hanya masuk ke Banda 2 seminggu
  • Cari tahu tour guide biar enak jalannya, pasti beda rasanya kalau ada guide menjelaskan history tempat tempat yang ada di Pulau Banda.

Cara untuk sampai di kepulauan Banda Naira adalah sebagai berikut :

  • Dengan Pesawat kecil namun jadwal tak jelas sesuai kondisi cuaca
  • Dengan kapal cepat ( waktu tempuh 4-5 jam direct Banda –Ambon dan sebaliknnya )
  • Dengan kapal PELNI ini juga berdasarakan jadwal kadang jika cuaca buruk ya jadwal kapal berubah.

Kalau mau bisa berenang ( haahha ) maaf maksudnya ketiga cara itulah yang bisa ditempuh untuk bisa ke Banda.

Kalau mau naik kapal cepat dengan jarak tempuh 4 jam harga tiketnya Rp 410,000 ya berangkatnya dari pelabuhan Tulehu.Itupun jadwalnya 2 hari sekali.

Bagi yang belum tahu Banda Naira itu dimana? mari kita baca sedikit dari wikipedia

Banda Neira atau Banda Naira adalah salah satu pulau di Kepulauan Banda, dan merupakan pusat administratif Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah. Secara administratif, Banda Neira terbagi dalam 6 desa yakni Dwiwarna, Kampung Baru, Merdeka  Nusantara, Rajawali dan Tanah rata.

Topografi pulau ini cenderung datar, sehingga memungkinkan didirikannya kota kecil. Pulau Banda Neira memiliki kantor pemerintahan, toko, dermaga, dan bandara. Penduduk pulau ini berjumlah 14.000.

Banda Neira pernah menjadi pusat perdagangan pala dan fuli dunia, karena Kep. Banda adalah satu-satunya sumber rempah-rempah yang bernilai tinggi itu hingga pertengahan abad ke-19. Kota modernnya didirikan oleh anggota VOC, yang membantai penduduk Banda untuk mendapatkan palanya pada tahun 1621 dan membawa yang tersisa ke Batavia (kini  Jakarta ) untuk dijadikan budak.

Di provinsi Maluku Kepulauan Banda Naira adalah setitik pulau kecil di luasnya lautan digambar dibawah ini tapi pulau ini sangat  tersohor dari ratusah tahun silam sampai para penjajah silih berganti datang menguasai pulau ini demi rempah rempahnya yang tersohor yaitu buah Pala.

Kepulauan Banda di Provinsi Maluku
Kepulauan Banda di Provinsi Maluku

Kami menginap di Hotel Maulana selama di Banda Naira, hotelnya sangat mewah di jamannya, dulu pak Presiden SBY Pernah menginap disana bahkan Lady Diana pun pernah datang ke Pulau ini berlibur dan tinggal di hotel tersebut. Hotel ini milik keluarga Bapak Des Alwy yang merupakan anak asli Banda dan anak angkat dari Bung Hatta.

Yang paling indah adalah saat sarapan pagi di teras yang menghadap ke pelabuhan dan hamparan pulau dan gunung ap  di depan mata. Keindahan yang luar biasa.  Hijau tosca nya lautan banda yang super indah sungguh menghipnotis pandangan.

Hari pertama kami habiskan berjalan berkeliling kota kecamatan yang kecil itu, jalan jalan dikota kecil tersebut hanya muat 1 mobil dan disana konon hanya ada 1 kendaraan roda 4, kebanyakana adalah sepeda motor dan roda tiga pengangkut barang. Kota ini penuh sejarah masa lalu. Sangat rekomended buat pencinta sejarah.

Posisi kota kecamatan di Pulau Naira
Posisi kota kecamatan di Pulau Naira

Kepulauan Banda Naira sendiri terdiri dari 9 pulau sebagai berikut :

  1. Neira,
  2. Banda Besar/Lonthor,
  3. Ay,
  4. Run,
  5. Rosengain/ Hatta,
  6. Gunung Api,
  7. Pisang/ Syahrir,
  8. Karaka,
  9. Nailaka,

Mari kita list objek wisata yang ada di BANDA NAIRA sbb :

  1. Gunung Api

Kami tak sempat mendaki gunung yang tingginya  670 meter ini pernah meletus di tahun 1988, caranya  adalah menggunakan kapal menyebrang dengan perjalanan 10 menit sangat dekat dari kepualau banda besar. Pemandangan dari atas gunung luar biasa indahnya

  1. Gereja Tua / “Hollandische Kerk

Gereja tua ini adalah peninggalan Belanda dibangun di abad ke 16, sempat hancur karena gempa bumi dahsyat dan dibangun kembali di tahun 1852. Lokasinya persis ditengah kota Banda.

  1. Rumah Bung Hatta

Bung Hatta di masa setelah kemerdekaan pernah di asingkan oleh Penjajah Belanda ke Banda Naira, di dalam rumah Bung Hatta banyak peninggalan yang bisa kita lihat, mulai dari meja, perabot rumah, kursi,baju dan lainnya.

  1. Rumah Bung Syahrir

Sama dengan Bung Hatta, Bung Syahrir juga pernah diasingkan di Banda, di dalam rumah Bung Syahrir juga banyak yang bisa disaksikan.

  1. Peninggalan BENTENG BELGICA

Ini peninggalan portugis akan saya ulas lebih detail, benteng berbentuk persegi lima mirip dengan gedung pentagon nya Amerika, makanya ini dijuluki The Indonesian Pentagon. Oh ya saya sempat naik di beberapa menaranya. Dan berfoto foto, pemandangan lanskap Banda Naira sangat indah dari atas Menara di Benteng Belgica ini.

6. Benteng Nassau

lokasi berhadapan dengan benteng BELGICA bahkan ada lorong rahasia yang tembus kesana, konon benteng yang ada pertama adalah benteng Nassau namun karena posisinya kurang tinggi jadi kurang strategis. Saat kesana benteng sedang di renovasi  jadi kami tak sempat masuk kesana.

7. Istana Mini

Istana mini karena bentuknya mirip dengan istana kepresidenan di Jakarta, yang sebenarnya dulu nya terletak di dalam benteng Nassau namun karena gempa bumi jadi hancur dan dibuatlah replica nya di bangun diluar. Masih dalam kompleks Istana Mini saya sempat memasuki ruangan satu per satu, bahkan di dalam kompleks itu ada patungan setengah badan dari salah pimpinan VOC Kala itu.  Dan kami sempat memasuki salah satu kamar di depan Istana Mini dimana di sebuah jendela kaca ada tulisan goresan yang konon tulisan pesan dari anak / putri penguasa VOC kala itu yang karena stress tak bisa kembali ke negaranya bunuh diri dan sebelum melakukan aksinya menuliskan goresan di kaca jendela kamarnya.

  1. Pulau Hatta,  salah satu pulau yang pantainya indah, kami kesana dengan kapal kayu berisi 10 orang dan pasirnya putih dan pulau ini tak berpenghuni, biasanya di gunakan sebagai objek wisata jika kita berkunjung ke Banda Naira.
  2. Pulau Lontor, Jadi Kepulauan Banda Naira terdiri dari 2 pulau Banda besar ( Lonthor ) dan pulau Naira ( tempat kami tinggal ) yang berdekatan. Kami tak sempat ke pulau ini kala itu karena waktu mepet, di Pulau Lonthor ini lah kebun pala dan kebun Kenari yang pernah menjadi primadona perdagangan rempah rempah di masa VOC, yang membuat Banda Naira terkenal seantero dunia dan bahkan Belanda rela menukarkan salah satu jajahannya yaitu Pulau Manhattan di Amerika dengan salah satu pulau di Banda Naira karena buah Palanya. Di Pulau Lonthor ada Peninggalan puing Benteng Hollandia yang tersisa cuma gerbangnya, ada sumur keramat dan ada kebun Pala dan Kenari.
  3. Pasar Traditional, sepanjang pasar berjejer toko kecil buat belanja oleh oleh khas Banda, ragam camilan buah kenari dan pala.
  4. Spot diving lava flow dan gunung api, karena saya sudah berhenti dari dunia selam sehingga untuk ini saya skip.

Sepanjang di Banda, kemana mana bisa jalan kaki, karena kotanya kecil sekali.Beberapa cafe juga sudah dibuka, saat kami datang ada juga beberapa bule yang lagi liburan, kata orang disana puncak keramaian wisatawan eropa datang di bulan September saat musim panas mulai.Enak melangkah dengan udara segar tanpa polusi kendaraan.

Saat pulang kami menumpangi KAPAL PELNI TIDAR dan kami berhasil menyewa kamar ABK dengan 2 tempat tidur, jadi saat pulang kami sangat menikmati. Dalam kamar ABK kami leluasa nonton, rebahan, dan dapat makan pula. Harga tiket ekonomi ke Ambon dari Banda adalah Rp 100k. Namun kami sewa kapal ABK 200 ribu hanya untuk 8 jam sampai di Ambon.Saya bertiga di kamar tersebut jadi kami patungan saja.

Informasi penting tentang wisata ke Banda Naira. Di oktober 2017 nanti Cruise Pelni akan dimulai yaitu Akan adanya kapal pesiarnya PELNI resmi beroperasi dan Banda Naira termasuk dalam list destinasinya, so semoga dengan adanya CRUISE PELNI semakin mempermudah akses ke Pulau Banda Naira tersebut.

Semoga diberi kesempatan untuk ke Banda Naira dengan nuansa full liburan ya atau mungkin nanti kapal pesiar nya PELNI bisa sekalian ke Misool di Sorong dan Bunaken di Manado.

Koleksi foto sementara saya cari filenya karena sudah 3 bulan lalu, video diatas adalah video kawan yang membawa drone nya kesana dan mendokumentasikan petualangan kami dan kelihatan lanskap Banda  Naira yang super keren dari atas. Dari videonya saja sudah keren kan, pokoknya kalau ada kesempatan kalian wajib mengunjungi Banda Naira.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *