Explore Maluku 38#Belut Morea Wai Salaka

Papan depan lokasi kali tempat belut morea
Papan depan lokasi kali tempat belut morea

Belut Morea  Wai Salaka

Setelah penantian panjang untuk bisa bertemu langsung dan sang belut legenda / belut morea alias Morea Waai akhirnya diberi kesempatan, masih dalam rangka  kunjungan bos saya di bulan April  atau Maret lalu, begitu banyak yang saya mau share namun tak pernah berhasil tereksekusi Karena geliat kesibukan ngesot nguli kerja sehari hari.

Salah satu spot kunjungan wisata di daerah Tulehu  selain  kampong sepakbola Tulehu,  adalah  Morea atau belut di desa Wai, kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah. Morea sendiri berarti belut raksasa yang ukurannya bahkan lebih dari 1 meter.  Tempatnya sendiri adalah kolam kecil yang biasa disebut kolam Waisalaka yang ukurannya tak seberapa besar yang dipercaya tempatnya mata air suci dan di kolam itu memang banyak lubang lubang kecil yang dipercaya masuk kedalam tanah dan terhubung kelaut.

Terbukti ketika memandang kebawah kolam sebenarnya biasanya morea tersebut tidak berenang di kolam nanti prosesnya adalah pawangnya memanggil dengan hentakan jari  tangan di air dan umpan telur mentah maka morea morea alias belut  belut tersebut.

CARA KE MOREA WAI

Letak kolam Waisalaka sendiri jika ditempuh dari kota Ambon sekitar 30-45 menit dengan kondisi jalan mulus. Nanti ada petunjuk jelas arahnya, kita akan sampai di sebuah desa bernama desa Wai, dengan pemukiman penduduk. Sampai di papan nama KOLAM WAISALAKA. Nah disitulah parker mobil dan kita harus berjalan beberapa meter untuk masuk ke kompleks kolam yang dikelola oleh warga setempat, kadang ada parker liar dari anak anak sekitar. Kolam mata air Waisalaka sendiri tak terlalu luas, saat memsuki area  kolam kolam yang learnya sekitar 2 meter ini ditempati banyak penduduk mencuci pakaian. Yang saya heran ini belut belut bisa hidup di air yang tercemar air sabun di dibagian lain ada anak anak kecil warga sekitar yang mandi dan berenang, nah dibagian ujung yang langsung berdinding tebing itulah yang tak boleh diganggu disanalah morea morea itu. Sekilas taka da apa apa di kolam tersebut karena ternyata morea morea itu bersembunyi dalam lubang lubang kecil.

Aktifitas masyarakat mencuci dikali yang ditempati belut raksasa tersebut sudah biasa terlihat

 

Kali tempat Morea Wai
Kali tempat Morea Wai

 

BIAYA MASUK KE KOLAM WAISALAKA

Biaya resmi masuk  Rp 5,000/ orang sedang untuk biaya pawang sendiri biasanya Rp 40,000-50,000 ( dengan 4  buah telur ).  Di tempat tersebut pawangnya adalah orang local, salah satunya pak Baldus Bakarbessy Alias Pak Bai. Saat itu bos saya membayar Rp 40-50 ribu dan mendapatkan 1 kantung isinya 4 telur ayam, dan pak Bai lah yang turun ke dalam kolam dan saat kami datang ada satu rombongan turis asli ambon yang mungkin domisili luar Ambon yang datang berwisata, pak Bai memandu mereka dan kami bergabung menonton atraksinya, saat kami datang air kolam cukup dangkal karena musim kemarau.

ASAL MUASAL MOREA

Menurut pak Bai ( Baldus Bakarbessy) pawang yang sempat memandu kami pertama,  konon zaman dulu penduduk yang di Wai sebenarnya dari gunung dan mereka berencana pindah ke daerah pantai yang memang daerah Wai adalah daerah pantai. Maka sang leluhur melempar tongkat sakti dan dari bekas tancapan tongkat mengalir mata air yang akhirnya menjadi kolam dan tiba tiba ikan dan morea tersebut hidup dikolam mata air waisalaka tersebut. Yang menandakan bahwa di lokasi tersebut cukup subur untuk menetap namun untuk  Morea  Wai alias belut raksasa dianggap hewan yang keramat penduduk tak berani makan atau menangkap mereka memeliharanya turun temurun. Dan sampai saat ini jadi objek wisata di kecamatan Salahutu, Maluku Tengah.

 

ATRAKSI MOREA

Pawang tak hanya orang dewasa, anak kecil yang keturunan pawang di lokasi kolam juga memandu kami, karena morea di ujung kolam Cuma ada 2 ekor, dan  nampaknya pak Baldus sudah lelah dia menyuruh salah satu bocah perempuan untuk memandu kami karena salah satu teman saya mau memegang morea namun tak mau celana basah atau sepatu jadi solusinya  kami dibawa dan diarahkan ke dekat jembatan di pinggir kolam banyak ibu ibu sedang mencuci pakaian. Si bocah perempuan ini membawa satu kantong telur ayam lagi kesana. Karena kami mau melihat banyak morea bukan cuma satu atau dua ekor saja.

Setelah si bocah melettikan jari diatas permukaan air disertai tangan satunya memegang telur ayam yang sudah dipecahkan bagian atasnya, sekejap beberapa ekor belut raksasa muncul dari pinggir kolam, ajaib entah dari mana mereka muncul, ada  5 ekor yang muncul dengan ukuran raksasa ( panjang satu meter dan lebar lingkar 3-5 cm ).Si bocah berambut ikal sesekali memberikan umpan telur dan ditangan satunya lagi membelai satu satu belut, biasanya yang dibelai yang akan di berikan makan telur karena yang lain akan  berebut.

Untuk pengunjung yang mau menyentuh kulit morea caranya, sebelum diberi makan telur sang pawang akan membelai dan memancing para morea mendekat, setelah mendekat pengunjung memanfaatkan moment tersebut, teman saya dan saya sempat menyentuh permukaan tubuh morea yang rasanya “licin sekali” jadi geli sendiri takut digigit padahal mereka tak menggigit sama sekali.

Setelah puas menyentuhnya, sang bocah  memberi makan dan sang morea langsung berenang pergi dan yang lain mendekat menunggu giliran mendapatkan telur. Saya tanya ke bocah perempuan apakah tak takut digigit,katanya kalau gigit tak sakit kayak kena jarum saja.

Setelah puas melihat atraksi mereka dan empat telur sudah habis kami membayar uang telur ke si bocah dan kami pun foto foto dan  pamit pergi.

Lain waktu saya akan kembali ke MOREA WAI untuk bisa turun dan memegang langsung belutnya, selain di desa Wai, morea Ambon juga banyak terdapat di daerah Larike, cerita nya akan saya ulas di kesempatan lainnya. Di desa Wai masih ada daerah wisata yaitu Rumah Pohon, nantikan kisah saya berikutnya di Explore Maluku.

Jangan lupa baca kisah  Explore Maluku sebelumnya :

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *